Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

SEMUA MAKHLUK BERTASBIH DAN BERSUJUD KEPADA ALLAH

 

SEMUA MAKHLUK BERTASBIH DAN BERSUJUD KEPADA ALLAH

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh,  perintah Allah Ta'ala kepada orang orang beriman untuk beribadah kepada-Nya. Diantaranya adalah termasuk bertasbih dan bersujud kepadanya terutama dalam shalat. Tetapi ketahuilah bahwa BUKAN HANYA ORANG ORANG BERIMAN YANG BERIBADAH KEPADA ALLAH TA'ALA.

Allah Ta'ala menjelaskan bahwa semua makhluk dan berupa benda mati juga beribadah kepada-Nya yaitu dengan  bertasbih bahkan bersujud kepada Allah Ta'ala :

Pertama : Bertasbih kepada Allah Ta'ala.

Banyak sekali ayat al Qur an yang menjelaskan hal ini, diantaranya adalah :

(1) Surat al Isra' ayat 44. Allah Ta'ala berfirman :

تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih memuji-Nya. Tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.

(2) Surat an Nur ayat 41. Allah Ta'ala berfirman :

أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ

Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Allah-lah bertasbih apa yang ada di langut dan di bumi dan juga burung yang mengembangkan sayapnya. Masing masing sungguh telah mengetahui (cara) berdoa dan bertasbih. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

Imam Ibnu Katsir berkata : Bahwa segala sesuatu yang berada di langit dan di bumi seperti malaikat, manusia, jin, hewan hingga benda mati semuanya bertasbih kepada Allah Ta'ala. (Tafsir Ibnu Katsir).

(3) Surat ash Shaff ayat 1. Allah Ta'ala berfirman :

سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah dan Dia-lah yang Mahaperkasa, Maha bijaksana.

Syaikh as Sa'di berkata : (Ayat) ini adalah penjelasan tentang keagungan dan keperkasaan Allah Ta'ala, segala sesuatu TUNDUK KEPADA-NYA. Seluruh yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan memuji, menyembah dan meminta segala kebutuhan kepada Rabb mereka. (Tafsir Taisir Karimir Rahman). 

Kedua : Bersujud kepada Allah Ta'ala.

Diantaranya dijelaskan Allah Ta'ala dalam firman-Nya :

(1) Surat an Nahl ayat 49. Allah Ta'ala berfirman :

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ

Dan segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi hanya BERSUJUD KEPADA ALLAH yaitu semua makhluk begerak (bernyawa) dan (juga) para malaikat dan mereka tidak menyombongkan diri.

(2) Surat al Hajj ayat 18. Allah Ta'ala berfirman :

Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi BERSUJUD KEPADA ALLAH. Juga matahari, bulan, bintang, gunun gunung, pohon pohon, hewan hewan yang melata dan DAN KEBANYAKAN DARI MANUSIA ?. Tetapi banyak (manusia) YANG PANTAS MENDAPAT ADZAB.

Tentang ayat ini, Syaikh as Sa'di berkata : Di tengah tengah ayat ini, Allah Ta'ala menyisipkan penjelasan mengenai sujudnya semua makhluk kepada-Nya. Seluruh makhluk yang berada di langit dan di bumi, matahari, bulan, bintang bintang, gunung gunung, pepohonan, bangsa hewan yang mencakup seluruh binatang. DAN KEBANYAKAN DARI KALANGAN MANUSIA.

Mereka adalah orang orang beriman. "Dan banyak dari manusia yang telah ditetapkan adzab atasnya". Maksudnya, pasti telah ditetapkan (adzab) lantaran kekufurannya dan tidak beriman. Allah tidak melimpahkan taufik baginya untuk menjadi orang beriman. (Tafsir Taisir Karimir Rahman)

Nah, ketika makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi, yang besar dan yang kecil semua bertasbih bahkan bersujud kepada Allah Ta'ala  maka orang orang beriman haruslah semakin bersemangat untuk beribadah kepada Allah Ta'ala dibanding makhluk yang selainnya.

Bahkan  ketika orang beriman beribadah atau melakukan amal shalih, Allah Ta'ala akan memberi balasan yaitu kehidupan yang baik baginya di dunia dan di ahirat sebagaimana firman-Nya :

مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Barangsiapa yang beramal saleh, laki laki atau perempuan sedangkan dia beriman, akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. Dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S an Nahal 97).

Insya Allah ada mafaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.893)

 

 

 

 

 


YANG DITIMBANG DI AKHIRAT ADALAH AMAL BUKAN ILMU

 

YANG DITIMBANG DI AKHIRAT ADALAH AMAL BUKAN ILMU

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, agama Islam sangat menghargai ilmu bahkan mewajibkan umatnya untuk belajar ilmu. Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim (H.R Ibnu Majah, dari  Anas bin Malik, dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Ketahuilah bahwa  ilmu yang PALING UTAMA untuk dipelajari adalah ilmu syar'i. Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menjelaskan bahwa : Ilmu syar’i adalah ilmu yang terkandung dalam al Qur an dan as Sunnah, yakni : (1) Ilmu tentang Allah dan Sifat-sifat-Nya. (2) Ilmu tentang hak Allah terhadap hamba-Nya. (3) Ilmu tentang segala hal yang disyari’atkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. (4) Termasuk juga ilmu tentang jalan yang akan mengantarkan hamba kepada ilmu itu beserta segala rinciannya. (Dari Kitab al ‘Ilm wa Akhlaqu Ahliha).

Tetapi ketahuilah bahwa ilmu adalah sarana untuk bisa beribadah dengan benar yaitu ikhlas karena Allah Ta'ala dan ittiba' yaitu sesuai petunjuk Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam. Sungguh kita butuh ilmu dalam setiap waktu dan keadaan. (1) Kita butuh ilmu untuk memahami aqidah yang lurus. (2) Kita butuh ilmu untuk beribadah yang benar. (3) Kita butuh ilmu untuk berakhlak yang terpuji. (4)  Kita butuh ilmu agar bisa bermuamalah dengan baik. Bahkan beberapa saat sebelum matipun kita masih butuh ilmu yaitu ilmu tentang kalimat apa yang harus diucapkan pada saat yang kritis itu. 

Sehari hari kita menyaksikan bahwa  banyak saudara saudara kita yang bersemangat untuk belajar ilmu. Ini benar benar hal yang menggembirakan dan sangat baik. Namun demikian yang paling penting lagi adalah SEMANGAT UNTUK MENGAMALKANNYA. Ketahuilah bahwa di akhirat kelak yang akan ditimbang adalah AMAL SHALIH BUKAN ILMU YANG DIMILIKI KETIKA DI DUNIA. Allah Ta'ala berfirman :

فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Maka barangsiapa berat timbangan (amal kebaikan) nya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (Q.S al A'raf 8).

Oleh karena itu hamba hamba Allah hendaklah berusaha dan bersemangat mengamalkan ilmu yang sudah diketahuinya. Misalnya ketika :

(1) Sudah punya ilmu tentang shalat shalat sunnah, puasa puasa sunnah hendaklah berusaha mengamalkan sebisa mungkin.

(2) Sudah punya ilmu tentang membaca al Qur an maka berusahalah membacanya secara rutin.  

(3) Sudah punya ilmu tentang doa sehari hari hendaklah berusaha mengamalkannya, seperti doa keluar rumah. Doa masuk dan keluar kamar mandi, doa berangkat ke masjid, masuk masjid dan keluar masjid hendaklah jangan diabaikan.

(4) Sudah punya ilmu tentang dzikir sesudah shalat dan dzikir pagi-petang berusahlah mengamalkannya.

(5) Sudah punya ilmu tentang adab tidur, doa dan dizkir sebelum tidur berusahalah mengamalkannya.   

Sebagai penutup tulisan ini, dinukil beberapa nasehat ulama tentang mengamalkan ilmu yang sudah diketahui.

Pertama : Diriwayatkan oleh ad Darimi,  Mu’adz bin Jabal berkata : Ketahuilah ilmu apa saja yang (hendak) engkau ketahui !. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak akan memberimu pahala dengan ilmu itu hingga engkau mengamalkannya.

Kedua : Sufyan ats-Tsauri berkata : Apabila aku mengamalkan (ilmu) yang telah aku ketahui, niscaya aku menjadi orang yang paling berilmu. Tapi apabila aku tidak mengamalkan (ilmu) yang aku ketahui, maka tidak ada di dunia ini yang lebih bodoh dariku. (Al-Jaami' lil Khathiib)

Ketiga : Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata : Apabila seseorang tidak mengamalkan ilmunya maka menyebabkan kegagalan dalam ilmunya, dan tidak mendatangkan berkah, dan membuatnya (bisa) lupa (akan ilmu yang dipelajari). (Syarah Hilyah Thaalib al 'Ilmi).

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.894)

 

 

 

 

 


KEBIASAAN TELAT MELAKSANAKAN SHALAT HARUS DIHINDARI

 

KEBIASAAN TELAT MELAKSANAKAN SHALAT HARUS DIHINDARI

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Salah satu ibadah paling utama dalam Islam adalah shalat yang tidak boleh dilalaikan karena shalat adalah rukun kedua setelah syahadatain. Sungguh shalat adalah amal yang pertama kali dihisab di akhirat kelak.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِك

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari Kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaraka wa Ta’ala mengatakan : Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah ?. Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang.

Begitu juga amalan lainnya seperti itu. Dalam riwayat lainnya disebutkan pula  : Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula. (H.R Abu Daud, Imam Ahmad, al Hakim dan  Baihaqi).

Sungguh Allah Ta’ala telah mengingatkan  bahwa shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya  :

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sungguh, shalat itu adalah kewajiban DITENTUKAN WAKTUNYA atas orang orang beriman. (Q.S an Nisa’ 103).

Ketahuilah bahwa shalat memiliki pengaruh yang kuat bagi yang mengamalkannya di dunia. Shalat yang baik akan memperbaiki amal-amal lainnya. Begitupun dengan shalat yang buruk, ia akan memperngaruhi amal-amal lainnya.

Lalu bagaimanakah jika terbiasa shalat terlambat atau telat ?. Shalat yang sering diakhirkan atau tidak tepat waktunya juga mempengaruhi urusan kebaikan lainnya. Sehingga barangsiapa yang sering shalat terlambat, maka rahmat dan pertolongan Allah Ta'ala  juga bisa datang terlambat. Rasululllah Salallahu 'alaihi Wasallam  bersabda :

لا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمْ اللَّهُ

Suatu kaum masih saja bersikap lambat (dalam ketaatan kepada Allah -peny) sehingga Allah akan memperlambat mereka (dari rahmat-Nya) H.R Imam Muslim.

Dalam kitab Fatawa Syaikh Ibnu Utsaimin dijelaskan bahwa maksud sabda Rasulullah tersebut adalah apabila seseorang membiasakan dirinya terlambat untuk ibadah kepada Allah Ta'ala, maka Allah Ta'ala akan menghukumnya dengan mengakhirkannya dalam semua urusan kebaikan.

Dengan demikian shalat yang dibiasakan dengan terlambat akan mengakibatkan terlambatnya kebaikan kebaikan lainnya yang tentu mendatangkan kerugian. Oleh karena itu, shalat yang dilaksanakan dengan tepat waktu bisa menambah dekat kita kepada pertolongan dan rahmat Allah Ta'ala, demikian nasehat Syaikh Utsaimin.

Diantara kita bisa telat untuk sesuatu urusan dunia seperti telat tamat kuliah, telat mendapat pekerjaan, telat mendapat rizki, telat dikabulkan doa bahkan telat memahami ilmu syariat. Ketahuilah bahwa boleh jadi penyebabnya adalah   karena kita suka telat dalam memenuhi kewajiban kita kepada Allah Ta'ala termasuk suka telat dalam menegakkan shalat.  

Telat dalam sesuatu urusan dunia sebagaimana disebut diatas hakikatnya belum seberapa berat. Ketahuilah yang paling berat dan sangat mengerikan adalah TERLAMBAT MASUK SURGA karena harus tinggal dulu di neraka untuk waktu yang lebih lama. Dalam satu hadits disebutkan dalam satu hadits dari Aisyah :

 قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “لاَ يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ عَنِ الصَّفِّ الأَوَّلِ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ فِي النَّارِ

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : Orang yang terbiasa telat dari shaf pertama, dia akan ditelatkan untuk keluar dari neraka. H.R Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani, kecuali kata : neraka.

Wallahu A'lam. (2.892).

 

 


ALLAH MENCUKUPI KEBUTUHAN ORANG YANG SHALAT DHUHA

 

ALLAH MENCUKUPI KEBUTUHAN ORANG YANG  SHALAT DHUHA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh Allah Ta'ala telah memerintahkan hamba hamba-Nya untuk menegakkan shalat fardhu lima kali sehari semalam. Selain itu ada banyak shalat sunnah yang dianjurkan dalam syariat Islam. Satu diantaranya yang sifatnya sunnah muakadah adalah shalat sunnah dhuha.

Tentang makna shalat dhuha dijelaskan oleh Syaikh bin Baz yaitu : Shalat dhuha  atau shalatul Awwabiin adalah shalat sunnah mu’akkadah, dimulai sejak terbitnya matahari setinggi tombak, sampai menjelang tergelincirnya matahari, minimal dua rakaat dan tak terbatas jumlah maksimalnya (www.binbaz.org.sa).

Ketahuilah bahwa shalat dhuha  adalah shalat orang yang kembali kepada ketaatan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

لا يحافظ على صلاة الضحى إلا أواب، وهي صلاة الأوابين

Tidaklah menjaga shalat sunnah Dhuha melainkan awwab (orang yang kembali kepada ketaatan). Inilah shalat awwabin. (H.R Ibnu Khuzaimah, dihasankan oleh Syaikh al Albani)

Imam an Nawawi rahimahullah berkata : Awwab adalah muthii’ (orang yang taat). Ada pula ulama yang mengatakan bahwa maknanya adalah orang yang kembali kepada ketaatan. (Syarh Shahih Muslim).

Sungguh, sangatlah banyak keutamaan yang akan diperoleh hamba hamba Allah yang melazimkan dirinya untuk melaknakan shalat dhuha ini. Diantaranya adalah bahwa Allah Ta'ala akan mencukupi kebutuhannya di akhir harinya. Dari Uqbah bin Amir al Juhani radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda :

 

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَا ابْنَ آدَمَ اكْفِنِى أَوَّلَ النَّهَارِ بِأَرْبَعِ رَكَعَاتٍ أَكْفِكَ بِهِنَّ آخِرَ يَوْمِكَ

 

Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman : Wahai anak Adam, laksanakan untuk-Ku empat rakaat di awal siang, AKU AKAN CUKUPI DIRIMU dengan shalat itu di akhir harimu. (H.R Imam Ahmad, Syaikh Syu’aib al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih.

 

Al ‘Azhim Abadi menyebutkan  : Hadits ini bisa mengandung pengertian bahwa shalat dhuha akan menyelamatkan pelakunya dari berbagai hal yang membahayakan. Bisa juga dimaksudkan bahwa shalat dhuha dapat menjaga dirinya dari terjerumus dalam dosa atau ia pun akan dimaafkan jika terjerumus di dalamnya. Atau maknanya bisa lebih luas dari itu. (Aun al Ma’bud).


Selain itu, ketahuilah bahwa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam memohon ampun seratus kali setelah shalat dhuha, yaitu sebagaimana  beliau mengucapkan :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمِ

مائة مرة  حتى  قالها

Ya Allah, ampunilah aku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.  

Sampai beliau membacanya seratus kali. (H.R Imam Bukhari dalam al Adab al Mufrad, Syaikh al Albani mengatakan bahwa hadits ini sanadnya shahih).

Insya Allah ada manfaatnya untuk kita semua. Wallahu A'lam. (2.891)

 

 

 

 

 

 


SANGAT DIANJURKAN BANYAK BERAMAL SHALIH DI BULAN RAJAB

 

SANGAT DIANJURKAN BANYAK BERAMAL SHALIH DI BULAN RAJAB

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Rajab adalah bulan ke tujuh dalam kalender hijriyah. Ketahuilah bahwa ada keutamaan pada bulan Rajab karena termasuk salah satu BULAN HARAM. Allah Ta'ala berfirman :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ

Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah adalah 12 bulan (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Diantaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus.  (Q.S at Taubah 36).

Nama nama  empat bulan haram tersebut  dijelaskan oleh Rasulullah Salallahu ‘alaihi Wasallam dalam sabda beliau :

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhar yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban. (H.R Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Ibnu Abbas, ahli tafsir terbaik dalam Islam,  memahami dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :  “Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” bermakna bahwa larangan berbuat zalim berlaku pada keseluruhan bulan, lalu Allah menghususkan empat bulan dan menjadikannya sebagai bulan mulia dan lebih mengagungkan kehormatannya. Allah menjadikan dosa di dalamnya lebih besar, begitu juga amal shalih dengan pahala lebih besar.

Menurut Imam Qatadah rahimahullah, bahwa kezaliman pada bulan-bulan haram lebih besar dosanya daripada berbuat zalim di (waktu) selainnya. Walaupun perbuatan zalim (dosa) secara keseluruhan adalah perkara besar (dosa besar). Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Ketika berada di bulan Rajab maka hamba hamba Allah hendaklah berusaha memperbanyak amal shalih karena nilai pahala amal shalih di bulan Rajab adalah lebih besar. Diantaranya hendaklah :

(1) Kalau biasanya shalat dhuha empat rakaat dengan dua kali salam maka inilah kesempatan baik untuk melakukannya lebih dari itu.  

(2) Memperbanyak puasa sunnah seperti puasa Senin-Kamis, Ayamulbidh dan yang lainnya. Kalau selama ini belum rutin melakukan puasa Senin-Kamis maka inilah kesempatan baik untuk  melakukannya secara rutin.   

(3) Memperbanyak membaca dan mentadaburi al Qur an. Kalau biasanya membaca al Qur an setiap hari 5 halaman maka inilah kesempatan sangat baik untuk membaca al Qur an lebih dari itu.

(4) Memperbanyak menghadiri majlis ilmu. Kalau biasanya dalam sepekan hadir di majlis ilmu satu atau dua kali, inilah waktu yang sangat dianjurkan untuk hadir lebih dari satu atau dua kali.

(5) Memperbanyak berinfak dan bersedekah, dan yang lainnya.

Namun demikian, ketika ingin beramal LEBIH BANYAK di bulan Rajab haruslah tetap memperhatikan dan hanya melakukan amal amal YANG DISYARIATKAN.

Sungguh di bulan Rajab sangatlah banyak amalan amalan khusus yang disandarkan kepada HADITS MAUDHU, PALSU BAHKAN HADITS  TAK ADA ASAL USULNYA. Diantaranya adalah :

(1) Shalat Alfiyah Shalat yaitu  dilakukan pada hari pertama bulan Rajab dan pertengahan bulan Sya’ban. Kemudian shalat Raghaib yang yang juga disebut shalat dua belas yang dilakukan pada malam Jumat pertama bulan Rajab.

(2) Berpuasa pada hari pertama, kedua, dan ketiga bulan Rajab dan ada pula yang mengkhususkan puasa pada hari ketujuh bulan Rajab.

(3) Membaca doa : Allahhumaghfirli warhamni watub alaiya  sebanyak 70 kali langsung setelah salam pada shalat shubuh dan shalat maghrib selama bulan Rajab. Katanya dengan doa ini maka setelah bulan Rajab semua dosa diampuni.

Semua ini adalah perbuatan atau amalan yang TIDAK ADA TUNTUNANNYA   dari Nabi Salallahu 'alaihi Wasalam. Sungguh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْه ِأَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa  beramal yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalannya tertolak. (H.R Imam Muslim).

Wallahu A'lam. (2.890).

   

   

 

 

 

 

 

 


PERMOHONAN AMPUN ANAK SHALIH MENGANGKAT DERAJAT ORANG TUANYA

 

PERMOHONAN AMPUN ANAK SHALIH MENGANGKAT DERAJAT ORANG TUANYA

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Sungguh, Rasulullah Salallhu ‘alaihi Wasallam telah mengingatkan dalam sabda beliau :  

إِذَا مَاتَ ابنُ آدم انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أو عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan ANAK SHALIH  yang berdoa untuknya. (H.R Imam Muslim)

Oleh karena itu sangatlah beruntung orang tua yang memiliki anak anak yang shalih dan shalihah. Mereka akan senantiasa mendoakan kedua orang tuanya baik ketika orang tuanya masih hidup atau sudah wafat.

Salah satu doa yang DIANJURKAN DAN SANGAT BERMANFAAT untuk dilakukan oleh anak anak bagi orang tuanya adalah PERMOHONAN AMPUN ATAU ISTIGHFAR. Diantaranya adalah :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى وَلِوَ الِدَىَّ وَارْ حَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَا نِى صَغِيْرًا 

 

Wahai Rabb- ku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu aku kecil.

Doa Nabi Ibrahim alaihis salam sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ

Ya Rabb kami, beri ampunanlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari diadakan perhitungan. (hari Kiamat). Q.S Ibrahim 41.

Doa seorang anak dengan memohon ampun bagi orang tuanya adalah sangat dianjurkan dan sangat bermanfaat. Diantaranya adalah bisa mengangkat derajat orang tuanya di surga kelak. Perkara ini dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau :

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِيْ الْجَنَّةِ فَيَقُوْلُ: يَا رَبِّ أَنىَّ لِيْ هَذِهِ ؟ فَيَقُوْلُ : بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

Sungguh, Allah benar-benar mengangkat derajat seorang hamba-Nya yang shalih di surga. Maka ia pun bertanya : Wahai Rabbku, bagaimana ini bisa terjadi ?. Allah Ta'ala menjawab : Berkat istighfar anakmu bagi dirimu. (H.R Imam Ahmad).

Oleh sebab itu, hamba hamba Allah hendaklah senantiasa berdoa memohon ampun bagi kedua orang tua dan juga doa doa memohon kebaikan bagi orang tua. Sungguh ini adalah saah satu cara BERBUAT BAIK KEPADA KEDUA ORANG TUA.

Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.889)

 

 


DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KAUM MUSLIMIN MENANG DI PERANG BADAR

 

DENGAN PERTOLONGAN ALLAH KAUM MUSLIMIN MENANG DI PERANG BADAR

Disusun oleh : Azwir B. Chaniago

Tanggal 17 Ramadhan tahun kedua hijriyah, di pagi hari berhadapan pasukan Islam dan pasukan kafir Quraisy  yang segera akan berperang. Pasukan Islam, dipimpin langsung oleh Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam yang sangat ingin mempertahankan diri untuk bisa terus mendakwahkan Islam di muka bumi.

Sedangkan pasukan kafir Quraisy dipimpin oleh Abu Jahal yang ingin menghambat dakwah Islam bahkan ingin menghancurkan Islam agar tidak berkembang dan tidak bisa mengganti agama nenek moyang mereka yang musyrik.

Model perang di zaman itu adalah saling berhadapan langsung maka kemungkinan menang ada pada kafir Quraisy. Kenapa ?, karena jumlah pasukan mereka sekitar 1.000 orang bersenjata lengkap siap perang. Sementara itu pasukan Islam hanya 313 orang dengan persenjataan sangat minimal.

Dalam keadaan yang begitu mengkhawatirkan lau  Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam  mengobarkan semangat pasukan Islam dengan sabda beliau : “Demi diri Muhammad yang ada di Tangan-Nya, tiada satu orang pun pada hari ini berperang melawan mereka dengan penuh kesabaran, mengharap keridhaan Allah dan maju terus pantang mundur, MELAINKAN ALLAH AKAN MEMASUKANNYA KE SURGA. 

Beliau juga bersabda : “Bangkitlah menuju surga yang seluas langit dan bumi”. (Lihat ar Rahiq al Makhtum, Syaikh Syafiyurrahman al Mubarakfuri) 

Dengan keadaan yang demikian berat maka Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam sungguh sungguh berdoa memohon pertolongan Allah Ta'ala.

Diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan Baihaqi, Ali bin Abi Thalib berkata : (Pada malam sebelum perang Badar) Semua kami tertidur, kecuali Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam beliau shalat di bawah pohon sampai pagi hari.

Diantara doa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam memohon pertolongan Allah Ta'ala pada perang Badar adalah :

اللّهُمّ هَذِهِ قُرَيْشٌ قَدْ أَقْبَلَتْ بِخُيَلَائِهَا وَفَخْرِهَا ، تُحَادّك وَتُكَذّبُ رَسُولَك ، اللّهُمّ فَنَصْرَك الّذِي وَعَدْتنِي ، اللّهُمّ أَحِنْهُمْ الْغَدَاةَ

Ya Allah, Inilah Quraisy, mereka datang dengan segala kesombongan dan kebanggaan mereka. Mereka menantang-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, karuniakanlah KEMENANGAN YANG TELAH ENGKAU JANJIKAN KEPADA-KU. Ya Allah, binasakanlah mereka pada pagi ini. (Lihat Sirah Ibnu Hisyam).

Allah Ta’ala segera memenuhi harapan dan doa Rasulullah Salallahu 'alaihi Wasallam, diantaranya :

Pertama : Allah mengirim seribu malaikat  untuk membantu kaum Muslimin dalam perang Badar. Allah Ta'ala berfirman : 

إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ

(Ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu lalu diperkenankannya bagimu : Sunguh Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan SERIBU MALAIKAT  yang datang berturut turut. (Q.S al Anfal 9)

Kedua : Menaburkan segenggam tanah ke arah wajah pasukan kafir Quraisy dan mengenai semua wajah, mulut dan mata mereka. Allah Ta'ala berfirman :

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ قَتَلَهُمْ ۚ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ رَمَىٰ ۚ وَلِيُبْلِىَ ٱلْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلَآءً حَسَنًا ۚ إِنَّ ٱللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang membunuh mereka. Dan bukan kamu yang melempar ketika engkau melempar dan untuk memberi kemenangan kepada orang orang beriman dengan kemenangan yang baik. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. (Q.S al Anfal 17)

Syaikh as Sa'di berkata : "Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar tetapi Allah-lah yang melempar". Kemudian (sesaat sebelum perang berlangsung) Nabi Salallahu 'alaihi Wasallam keluar dari kemahnya lalu mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke wajah orang orang kafir. Dan Allah Ta'ala menyampaikan tanah itu kesemua wajah mereka. Tidak seorang pun dari mereka kecuali tanah itu mengenai wajah, mulut dan mata mereka. (sebagaimana disebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh ath Thabrani).

Dalam kondisi demikian, maka kekuatan mereka luruh, semangat mereka melemah dan nampaklah kegagalan dan kelemahan mereka sehingga mereka pun kalah. (Lihat Tafsir Taisir Karimir Rahman).

Sungguh dalam kisah perang Badar ini ada pelajaran sangat berharga bahwa DENGAN PERTOLONGAN ALLAH TA'ALA maka pasukan Islam yang dengan persenjataan yang tak memadai dan jumlah pasukan yang sedikit bisa mendapatkan kemenangan yang besar. Allah Ta'ala berfirman : 

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ 

Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.  (Q.S al Baqarah 249)

 Insya Allah ada manfaatnya bagi kita semua. Wallahu A'lam. (2.888).

    


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia